1. KATA
a.
Hakikat Kata
Para
tata bahasawan struktural, terutama penganut aliran bloomfield, tidak lagi
membicarakan kata sebagai satuan lingual dan menganntinya dengan satuan yang
disebut morfem. Tetapi tidak pernah mempersoalkan apakah kata itu. Batasan kata
yang dibuat bloomfield sendiri yaitu kata adalah satuan bebas terkecil (a
minimal free from) tidak pernah diulas dan dikomentari, seolah-olah bahasa itu
sudah final. Para linguis setelah bloomfield juga tidak menaruh perhatian
khusus terhadap konsep kata. Malah tata bahasa generatif transformasi yang
dicetuskan dan dikembangkan oleh comsky, meskipun kata adalah dasar analisis
kalimat, hanya menyajikan kata itu dengan simbol-simbol.(Abdul Chaer:2007:163).
Tidak
dibicarakannya hakikat kata secara khusus. Batasan kata yang umum kita jumpai
dalam berbagai buku linguistic Eropa Adalah bahwa kata merupakan bentuk yang,
kedalam mempunyai kemungkinan yang mobilitas didalam kalimat. Batasan tersebut
menyirat dua hal. Pertama, bahwa setiap kata mempunyai susunan fonem yang
urutanya tetap dan tidak dapat berubah, serta tidak dapat diselipi atau
diselangi oleh fonem lain. Jadi, misalnya kata sikat, urutan fonemnya adalah
/s/,/i/,/k/,/a/,dan /t/. urutan itu tidak dapat diubah misalnya menjadi
/s/,/k/,/a/,/i/, dan /t/. atau diselipi fonem lain,misalnya menjadi
/s/,/i/,/u/,/k/,/a/, dan /t/. kedua,
setiap kata mempunnyai kebebasan berpindah tempat. Dapat ditengahi bahwa
kata adalah memiliki hubungan yang renggang dan dapat digantiakan atau
diipindahkan.
b. kalsifikasi kata
secara
tradisional (alisyahbana 1954; Mees 1956; dan Hadidjajah 1958 ) dikenal adanya
kata-kata yang termasuk kelas verba, nomina, ajektifa, adverbial, numberalia,
preposisi, konjungsi, pronominal, artikula, dan interjeksi. Kelas kata tersebut
dibedakan menjadi dua kelas. Kelas terbuka dan kelas tertutup. Kelas terbuka
adalah kelas yang keanggotaanya dapat bertambah atau berkurang sewaktu-waktu
berkenaan dengan perkembangan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat
penutur suatu bahasa. Yang termasuk
kelas terbuka adalah kata-kata yang termasuk dalam kelas verba, nomina, dan
ajektifa. Pada kelas verba bahasa Indonesia dulu belum ada kata-kata seperti
memonitor, tereliminasi tetapi kata-kata itu sekarang sudah ada. Hal ini
berbeda dengan kata-katadari kelas tertutup yaitu yang termasuk pronominal,
adverbia, preposisi, konjungsi dan artikula yang jumlahnya sejak dulu tidak
pernah bertambah. Kelas tetutup tidak pernah menjadi dasar sebuah proses
morfologis .(Abdul Chaer:2008:65)
c. Pembentukan Kata
1. Derivasi adalah suatu proses perubahan kelas kata
denganpemindahan kelas kata. Perubahan kata kerja mendengar menjadi
mendengarkan atau melihat menjadi perlihatkan adalah derivasi tanpa mengubah
kelas kata.misalnya:
membuat " membuatkan
melihat " memperlihatkan
melompat " melompatlan, melompati
menyerah " menyerahkan, menyerah
Derivasi ialah konstruksi yang berbeda distribusinya
dari pada dasarnya, sedangkan infleksi ialah konstruksi yang menduduki
distribusi yang sama dengan bentuk dasarnya (Samsuri, 1982:198;
Prawirasumantri, 1986:18). Kita ambil contoh kata menggunting, makanan,
dan mendengarkan. Perbedaannya akan terlihat pada
kalimat-kalimat berikut.
a. 1) Anak itu menggunting kain.
2) Anak itu gunting rambut.
*)
b. 1). Makanan itu
sudah basi.
2). Makan itu
sudah basi. *)
c 1). Kami mendengar suara
itu.
2).
Kami dengar suara itu.
d 1). Saya membaca buku
itu.
2).
Saya baca buku itu.
2. Infleksi
Dalam bahasa-bahasa infleksi seperti
bahasa Latin, Yunani, Sanksekerta, bahkan bahasa Semit seperti
bahasa Arab, terdapat bentuk-bentuk kata kerja yang disebut aktif-pasif. Dalam
bahasa Latin, misalnya seperti contoh sebagai berikut:
|
Kata
|
Aktif
|
Pasif
|
|
deleo – deleor
deles – deleris
delet – deletur
delemus – delemur
delent – delentur
|
Saya membinasahkan
Engkau membinasahkan
Dia membinasahkan
Kami membinasahkan
Mereka membinasahkan
|
Saya dibinasahkan
Engkau dibinasahkan
Dia dibinasahkan
Kami dibinasahkan
Mereka dibinasahkan
|
2. klitika
Klitik berasal dari bahasa
Yunani yaitu dari kata kerja, klinein yang berarti ‘bersandar’ (Verhaar, 1982;62). Ia
mengatakan bahwa klitik selalu dipakai untuk menyebutkan
kata-kata singkat yang tidak beraksen dan selalu bersandar pada suatu kata sebagai konstituennya.
Kridalaksana (1993:113) mengatakan klitik ialah bentuk terikat, secara fonologis tidak
mempunyai tekanan sendiri atau yang tidak dianggap morfem terikat, tetapi mempunyai
ciri-ciri kata karena dapat berlaku sebagai bentuk bebas.
bentuk
klitika tidak terlepas dari posisi klitik yang melekat pada bentuk
lain.Penampakan atau rupa satuan bahasa disebut bentuk (Kridalaksana, 1993:28).
Klitik yang secara fonologis terikat dengan kata yang mengikutinya disebut
proklitik (Kridaklasana, 1993:179), seperti ku menggantikan
‘aku’ pada contoh (3) berikut.. Klitik yang terikat dengan unsur yang
mendahuluinya disebut enklitik (Kridalaksana, 1993:51), seperti -nya pada
contoh (5)dibawah ini.
(3) Kubebaskan yang
mencuri
‘
Saya membebaskan pencuri’.
(4) Kupergi lihat
yang mati
‘
Aku pergi melihat orang meninggal’.
(5) Besar sekali kepalanya
‘Kepalanya besar sekali’.
Dalam
Tata Bahasa Baku Indonesia terdapat bentuk ku, mu, nya, lah, tah,
kah, danpun sebagai enklitik (Moeliono, 1992:247). Bentuk
kah, lah, pun, dan tah tidak dapat berdiri sendiri, tetapi selalu melekat
pada bentuk lain.







0 komentar:
Posting Komentar