Selasa, 29 November 2016

RESUM KATA (MORFOLOGI)


1. KATA
 a. Hakikat Kata
            Para tata bahasawan struktural, terutama penganut aliran bloomfield, tidak lagi membicarakan kata sebagai satuan lingual dan menganntinya dengan satuan yang disebut morfem. Tetapi tidak pernah mempersoalkan apakah kata itu. Batasan kata yang dibuat bloomfield sendiri yaitu kata adalah satuan bebas terkecil (a minimal free from) tidak pernah diulas dan dikomentari, seolah-olah bahasa itu sudah final. Para linguis setelah bloomfield juga tidak menaruh perhatian khusus terhadap konsep kata. Malah tata bahasa generatif transformasi yang dicetuskan dan dikembangkan oleh comsky, meskipun kata adalah dasar analisis kalimat, hanya menyajikan kata itu dengan simbol-simbol.(Abdul Chaer:2007:163).
            Tidak dibicarakannya hakikat kata secara khusus. Batasan kata yang umum kita jumpai dalam berbagai buku linguistic Eropa Adalah bahwa kata merupakan bentuk yang, kedalam mempunyai kemungkinan yang mobilitas didalam kalimat. Batasan tersebut menyirat dua hal. Pertama, bahwa setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutanya tetap dan tidak dapat berubah, serta tidak dapat diselipi atau diselangi oleh fonem lain. Jadi, misalnya kata sikat, urutan fonemnya adalah /s/,/i/,/k/,/a/,dan /t/. urutan itu tidak dapat diubah misalnya menjadi /s/,/k/,/a/,/i/, dan /t/. atau diselipi fonem lain,misalnya menjadi /s/,/i/,/u/,/k/,/a/, dan /t/. kedua,  setiap kata mempunnyai kebebasan berpindah tempat. Dapat ditengahi bahwa kata adalah memiliki hubungan yang renggang dan dapat digantiakan atau diipindahkan.
b. kalsifikasi kata
            secara tradisional (alisyahbana 1954; Mees 1956; dan Hadidjajah 1958 ) dikenal adanya kata-kata yang termasuk kelas verba, nomina, ajektifa, adverbial, numberalia, preposisi, konjungsi, pronominal, artikula, dan interjeksi. Kelas kata tersebut dibedakan menjadi dua kelas. Kelas terbuka dan kelas tertutup. Kelas terbuka adalah kelas yang keanggotaanya dapat bertambah atau berkurang sewaktu-waktu berkenaan dengan perkembangan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat penutur suatu bahasa.  Yang termasuk kelas terbuka adalah kata-kata yang termasuk dalam kelas verba, nomina, dan ajektifa. Pada kelas verba bahasa Indonesia dulu belum ada kata-kata seperti memonitor, tereliminasi tetapi kata-kata itu sekarang sudah ada. Hal ini berbeda dengan kata-katadari kelas tertutup yaitu yang termasuk pronominal, adverbia, preposisi, konjungsi dan artikula yang jumlahnya sejak dulu tidak pernah bertambah. Kelas tetutup tidak pernah menjadi dasar sebuah proses morfologis .(Abdul Chaer:2008:65)




c. Pembentukan Kata
1. Derivasi adalah suatu proses perubahan kelas kata denganpemindahan kelas kata. Perubahan kata kerja mendengar menjadi mendengarkan atau melihat menjadi perlihatkan adalah derivasi tanpa mengubah kelas kata.misalnya:
membuat " membuatkan
melihat " memperlihatkan
melompat " melompatlan, melompati
menyerah " menyerahkan, menyerah
Derivasi ialah konstruksi yang berbeda distribusinya dari pada dasarnya, sedangkan infleksi ialah konstruksi yang menduduki distribusi yang sama dengan bentuk dasarnya (Samsuri, 1982:198; Prawirasumantri, 1986:18). Kita ambil contoh kata menggunting, makanan, dan mendengarkan. Perbedaannya akan terlihat pada kalimat-kalimat berikut.
a. 1) Anak itu menggunting kain.
   2) Anak itu gunting rambut. *)
b. 1). Makanan itu sudah basi.
    2). Makan itu sudah basi. *)
c 1). Kami mendengar suara itu.
    2). Kami dengar suara itu.
d 1). Saya membaca buku itu.
    2). Saya baca buku itu.
2. Infleksi
Dalam bahasa-bahasa infleksi seperti bahasa Latin, Yunani, Sanksekerta, bahkan bahasa Semit seperti bahasa Arab, terdapat bentuk-bentuk kata kerja yang disebut aktif-pasif. Dalam bahasa Latin, misalnya seperti contoh sebagai berikut:
Kata
Aktif
Pasif
deleo – deleor
deles – deleris
delet – deletur
delemus – delemur
delent – delentur 
Saya membinasahkan
Engkau membinasahkan
Dia membinasahkan
Kami membinasahkan
Mereka membinasahkan
Saya dibinasahkan
Engkau dibinasahkan
Dia dibinasahkan
Kami dibinasahkan
Mereka dibinasahkan

        

2. klitika
Klitik berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata kerja, klinein yang berarti ‘bersandar’ (Verhaar, 1982;62). Ia mengatakan bahwa klitik selalu dipakai untuk menyebutkan kata-kata singkat yang tidak beraksen dan selalu bersandar pada suatu kata sebagai konstituennya. Kridalaksana (1993:113) mengatakan klitik ialah bentuk terikat, secara fonologis tidak mempunyai tekanan sendiri atau yang tidak dianggap morfem terikat, tetapi mempunyai ciri-ciri kata karena dapat berlaku sebagai bentuk bebas.
bentuk klitika tidak terlepas dari posisi klitik yang melekat pada bentuk lain.Penampakan atau rupa satuan bahasa disebut bentuk (Kridalaksana, 1993:28). Klitik yang secara fonologis terikat dengan kata yang mengikutinya disebut proklitik (Kridaklasana, 1993:179), seperti ku menggantikan ‘aku’ pada contoh (3) berikut.. Klitik yang terikat dengan unsur yang mendahuluinya disebut enklitik (Kridalaksana, 1993:51), seperti -nya pada contoh (5)dibawah ini.
(3)     Kubebaskan yang mencuri
‘        Saya membebaskan pencuri’.
(4)     Kupergi lihat yang mati
‘        Aku pergi melihat orang meninggal’.
(5)     Besar sekali kepalanya
          ‘Kepalanya besar sekali’.
Dalam Tata Bahasa Baku Indonesia terdapat bentuk ku, mu, nya, lah, tah, kah, danpun sebagai enklitik (Moeliono, 1992:247). Bentuk kah, lah, pun, dan tah tidak dapat berdiri sendiri, tetapi selalu melekat pada bentuk lain.


0 komentar:

Posting Komentar